Jamaika
Akar
musikal reggae terkait erat dengan tanah yang melahirkannya: Jamaika.
Saat ditemukan oleh Columbus pada abad ke-15, Jamaika adalah sebuah
pulau yang dihuni oleh suku Indian Arawak. Nama Jamaika sendiri berasal
dari kosa kata Arawak “xaymaca” yang berarti “pulau hutan dan air”.
Kolonialisme Spanyol dan Inggris pada abad ke-16 memunahkan suku Arawak,
yang kemudian digantikan oleh ribuan budak belian berkulit hitam dari
daratan Afrika. Budak-budak tersebut dipekerjakan pada industri gula dan
perkebunan yang bertebaran di sana. Sejarah kelam penindasan antar
manusia pun dimulai dan berlangsung hingga lebih dari dua abad. Baru
pada tahun 1838 praktek perbudakan dihapus, yang diikuti pula dengan
melesunya perdagangan gula dunia.Di
tengah kerja berat dan ancaman penindasan, kaum budak Afrika memelihara
keterikatan pada tanah kelahiran mereka dengan mempertahankan tradisi.
Mereka mengisahkan kehidupan di Afrika dengan nyanyian (chant) dan
bebunyian (drumming) sederhana. Interaksi dengan kaum majikan yang
berasal dari Eropa pun membekaskan produk silang budaya yang akhirnya
menjadi tradisi folk asli Jamaika. Bila komunitas kulit hitam di Amerika
atau Eropa dengan cepat luntur identitas Afrika mereka, sebaliknya
komunitas kulit hitam Jamaika masih merasakan kedekatan dengan tanah
leluhur.Sejarah
gerakan penyadaran identitas kaum kulit hitam, yang kemudian bertemali
erat dengan keberadaan musik reggae, mulai disemai pada awal abad ke-20.
Adalah Marcus Mosiah Garvey, seorang pendeta dan aktivis kulit hitam
Jamaika, yang melontarkan gagasan “Afrika untuk Bangsa Afrika…” dan
menyerukan gerakan repatriasi (pemulangan kembali) masyarakat kulit
hitam di luar Afrika. Pada tahun 1914, Garvey mendirikan Universal Negro
Improvement Association (UNIA), gerakan sosio-religius yang dinilai
sebagai gerakan kesadaran identitas baru bagi kaum kulit hitam.Pada
tahun 1916-1922, Garvey meninggalkan Jamaika untuk membangun markas
UNIA di Harlem, New York. Konon sampai tahun 1922, UNIA memiliki lebih
dari 7 juta orang pengikut. Antara tahun 1928-1930 Garvey kembali ke
Jamaika dan terlibat dalam perjuangan politik kaum hitam dan pada tahun
1929 Garvey meramalkan datangnya seorang raja Afrika yang menandai
pembebasan ras kulit hitam dari penindasan kaum Babylon (sebutan untuk
pemerintah kolonial kulit putih—merujuk pada kisah kitab suci tentang
kaum Babylon yang menindas bangsa Israel). Ketika Ras Tafari Makonnen
dinobatkan sebagai raja Ethiopia di tahun 1930, yang bergelar HIM Haile
Selassie I, para pengikut ajaran Garvey menganggap Ras Tafari sebagai
sosok pembebas itu. Mereka juga menganggap Ethiopia sebagai Zion—tanah
damai bak surga—bagi kaum kulit hitam di dalam maupun luar Afrika.
Ajaran Garvey sebagai sosok yang di-tuhan-kan pun mewujud menjadi religi baru bernama Rastafari dengan Haile Selassie Sebagai sosok yang dituhankan .Pada
bulan April 1966, karena ancaman pertentangan sosial yang melibatkan
kaum Rasta, pemerintah Jamaika mengundang HIM Haile Selassie I untuk
berkunjung menjumpai penghayat Rastafari. Dia menyampaikan pesan
menyediakan tanah di Ethiopia Selatan untuk repatriasi Rasta. Namun
Haile Selassie juga menekankan perlunya Rasta untuk membebaskan Jamaika
dari penindasan dan ketidak adilan dan menjadikan Rastafari sebagai
jalan hidup, sebelum mereka eksodus ke Ethiopia.Tahun-tahun
setelahnya kredo gerakan tersebut makin tersebar luas, yakni
“Bersatunya kemanusiaan adalah pesannya, musik adalah modus operandinya,
perdamaian di bumi seperti halnya di surga (Zion) adalah tujuannya,
memperjuangkan hak adalah caranya dan melenyapkan segala bentuk
penindasan fisik dan mental adalah esensi perjuangannya.” Ketika Bob
Marley menjadi pengikut Rastafari di tahun 1967 dan setahun kemudian
disusul kelahiran reggae, maka modus operandi penyebaran ajaran
Rastafari pun ditemukan: reggae!






0 komentar:
Posting Komentar