Apa Sih Definisi Reggae...???
Reggae itu adalah suatu aliran musik yang awalnya dikembangkan di Jamaika pada akhir era 60-an.
Walo kerap dipergunakan secara luas untuk menyebut hampir segala jenis
musik Jamaika, istilah reggae lebih tepatnya merujuk sama gaya musik
khusus yang muncul ngikutin perkembangan ska sama rocksteady.
Kata
“reggae” itu sebenernya diduga berasal dari pengucapan dalam logat
Afrika dari kata “ragged” (gerak kagok–seperti hentak badan pada orang
yang menari dengan iringan musik ska atau reggae). Irama musik reggae
itu sendiri terkontaminasi (kayak bahan kimia aja: terkontaminasi. He...
He...) elemen musik R&B yang lahir di New Orleans, Soul, Rock,
ritmik Afro-Caribean (Calypso, Merengue, Rhumba) sama musik rakyat
Jamaika yang disebut Mento, yang kaya sama irama Afrika. Irama musik
yang banyak dianggap menjadi pendahulu reggae itu adalah Ska dan
Rocksteady, bentuk interpretasi musikal R&B yang berkembang di
Jamaika yang sarat sama pengaruh musik Afro-Amerika. Secara teknis dan
musikal banyak eksplorasi yang dilakukan musisi Ska, diantaranya cara
ngocok gitar secara terbalik (up-strokes). Kayak adonan aja ya, dikocok.
Selain itu, juga cara mereka memberi tekanan nada pada nada lemah
(syncopated) dan ketukan drum multi-ritmik yang kompleks.
Reggae itu berbasis sama gaya ritmis yang bercirikan aksen pada off-beat ato sinkopasi, yang dikenal juga dengan istilah skank.
Pada
umumnya reggae memiliki tempo lebih lambat dibandingin ska atopun
rocksteady. Biasanya dalam reggae terdapat aksentuasi di ketukan kedua
dan keempat pada setiap bar, dengan gitar rhythm juga memberi penekanan
pada ketukan ketiga; ato nahan kord di ketukan kedua sampe ketukan
keempat dimainkan. Utamanya "ketukan ketiga" itu, selain tempo dan
permainan bassnya yang kompleks yang ngebedain reggae sama rocksteady,
meskipun rocksteady maduin pembaruan-pembaruan itu secara terpisah.
Udah segitu aja dulu... Entar kita bahas lagi di Sejarah Reggae.
Sejarah Reggae
Tahun
1968 banyak disebut sebagai tahun kelahiran musik reggae. Sebenarnya di
tahun itu nggak ada kejadian khusus yang jadi penanda awal muasalnya,
kecuali peralihan selera musik masyarakat Jamaika dari Ska dan
Rocsteady, yang sempat populer di kalangan muda pada paruh awal hingga
akhir tahun 1960-an, pada irama musik baru yang bertempo lebih lambat :
reggae. Boleh jadi hingar bingar dan tempo cepat Ska dan Rocksteady
kurang tepat sama kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Jamaika pada
saat itu yang sedang penuh tekanan.
Akar musikal reggae sendiri
berhubungan erat sama tanah yang ngelahirin musik reggae itu: Jamaika.
Saat ditemukan oleh Columbus pada abad ke-15 (inget kan pelajaran
sejarah waktu SMP dulu?), Jamaika adalah sebuah pulau yang dihuni oleh
suku Indian Arawak. Nama Jamaika sendiri berasal dari kosa kata Arawak
“xaymaca” yang artinya “pulau hutan dan air”.
Kolonialisme
Spanyol dan Inggris pada abad ke-16 memunahkan suku Arawak, yang
kemudian digantikan oleh ribuan budak belian berkulit hitam dari daratan
Afrika. Budak-budak itu dipekerjakan di industri gula dan perkebunan
yang bertebaran di sana. Sejarah kelam penindasan antar manusia pun
dimulai dan berlangsung hingga lebih dari dua abad. Baru pada tahun 1838
praktek perbudakan dihapus, yang diikutin juga sama melesunya
perdagangan gula dunia.
Di tengah kerja berat dan ancaman
penindasan, kaum budak Afrika memelihara keterikatan mereka sama tanah
kelahirannya dengan mempertahankan tradisi. Mereka nyeritaian kehidupan
di Afrika melalui nyanyian (chant) dan bebunyian (drumming) sederhana.
Interaksi dengan kaum majikan yang berasal dari Eropa pun ninggalin
bekas produk silang budaya yang akhirnya jadi tradisi folk asli Jamaika.
Kalo komunitas kulit hitam di Amrik ato Eropa dengan begitu cepat
luntur identitas Afrika mereka, sebaliknya, bro, komunitas kulit hitam
Jamaika masih merasakan kedekatan dengan tanah leluhur. Yang ini nih
yang patut kita tiru: nasionalisme yang tinggi.
Sejarah gerakan
penyadaran identitas kaum kulit hitam, yang kemudian berhubungan erat
sama keberadaan musik reggae, mulai disemai pada awal abad ke-20.
Adalah
Marcus Mosiah Garvey, seorang pendeta dan aktivis kulit hitam Jamaika,
yang ngeluarin gagasan “Afrika untuk Bangsa Afrika…” dan menyerukan
gerakan pemulangan kembali (ato bahasa kerennya itu repatriasi)
masyarakat kulit hitam di luar Afrika.
Pada tahun 1914, Garvey
mendirikan Universal Negro Improvement Association (UNIA), gerakan
sosio-religius yang dinilai sebagai gerakan kesadaran identitas baru
buat kaum kulit hitam.
Pada tahun 1916-1922, Garvey ninggalin
Jamaika buat ngebangun markas UNIA di Harlem, New York. Konon sampai
tahun 1922, UNIA punya lebih dari 7 juta orang pengikut. Antara tahun
1928-1930 Garvey balik lagi ke Jamaika dan terlibat dalam perjuangan
politik kaum hitam dan pada tahun 1929 Garvey meramalkan datangnya
seorang raja Afrika yang menandai pembebasan ras kulit hitam dari
penindasan kaum Babylon (sebutan untuk pemerintah kolonial kulit
putih—merujuk pada kisah kitab suci tentang kaum Babylon yang menindas
bangsa Israel). Ketika Ras Tafari Makonnen dinobatin sebagai raja
Ethiopia di tahun 1930, yang bergelar HIM Haile Selassie I, para
pengikut ajaran Garvey nganggap Ras Tafari sebagai sosok pembebas itu.
Mereka juga ngeyakinin Ethiopia sebagai Zion—tanah damai bak surga—bagi
kaum kulit hitam di dalam maupun luar Afrika. Ajaran Garvey pun mewujud
sebagai religi baru bernama Rastafari dengan Haile Selassie sebagai
sosok yang di-tuhan-kan.
Pada bulan April 1966, karena ancaman
pertentangan sosial yang ngelibatin kaum Rasta, pemerintah Jamaika
mengundang HIM Haile Selassie I untuk berkunjung menjumpai penghayat
Rastafari. Dia menyampaikan pesan nyediain tanah di Ethiopia Selatan
buat repatriasi Rasta. Namun Haile Selassie juga nekanin perlunya Rasta
untuk ngebabasin Jamaika dari penindasan dan ketidak adilan dan
ngejadiin Rastafari sebagai jalan hidup (ato kalo orang Britania bilang:
way of life), sebelum mereka eksodus ke Ethiopia.
Tahun-tahun
setelahnya kredo gerakan tersebut makin tersebar luas, yakni “Bersatunya
kemanusiaan adalah pesannya, musik adalah modus operandinya, perdamaian
di bumi seperti halnya di surga (Zion) adalah tujuannya, memperjuangkan
hak adalah caranya dan ngilangin segala bentuk penindasan fisik dan
mental adalah esensi perjuangannya.” Ketika Bob Marley menjadi pengikut
Rastafari di tahun 1967 dan setahun kemudian disusul kelahiran reggae,
maka modus operandi penyebaran ajaran Rastafari pun ditemukan: reggae!
Sejarah Rasta
Rasta,
ato Gerakan Rastafari ato Rastafari Movement, adalah sebuah gerakan
agama baru yang mengakui Haile Selassie I, bekas kaisar Ethiopia,
sebagai Raja diraja, Tuan dari segala Tuan dan Singa Yehuda sebagai Yah
(nama Rastafari buat Allah, yang merupakan bentuk singkat dari Yehovah
yang ditemukan dalam Mazmur 68:4 dalam Alkitab versi Raja James), dan
bagian dari Tritunggal Kudus. Nama Rastafari berasal dari Ras Täfäri,
nama Haile Selassie I sebelum ia dinobatin sebagai kaisar. Gerakan ini
muncul di Jamaika di antara kaum kulit hitam kelas pekerja dan petani
pada awal tahun 1930-an, yang berasal dari suatu penafsiran terhadap
nubuat Alkitab, aspirasi sosial dan politik kulit hitam, dan ajaran nabi
mereka, seorang penerbit dan organisator Jamaika kulit hitam, Marcus
Garvey (masih inget. Kan?), yang visi politik dan budayanya ikut
nolongin nyiptain suatu pandangan dunia yang baru. Gerakan ini
kadang-kadang disebut "Rastafarianisme"; tapi istilah ini dianggap nggak
pantes dan nyinggung perasaan banyak kaum Rasta.
Gerakan
Rastafari udah menyebar di berbagai tempat di dunia, terutama melalui
imigrasi dan minatnya dilahirkan oleh musik Nyahbinghi dan reggae
—khususnya musik Bob Marley, yang dibaptiskan dengan nama Berhane
Selassie (Cahaya Tritunggal) oleh Gereja Ortodoks Ethiopia sebelum ia
meninggal, sebuah langkah yang juga diambil belakangan oleh jandanya,
Rita.
Pada tahun 2000, ada lebih dari satu juta Rastafari di
seluruh dunia. Sekitar 5-10% dari penduduk Jamaika mengidentifikasikan
dirinya sebagai Rastafari. Kebanyakan kaum Rastafari vegetarian atau
hanya memakan jenis-jenis daging tertentu. Di AS ada banyak sekali
restoran vegetarian Hindia Barat, yang nyediain makanan Jamaika.
Doktrin
Rastafari
berkembang di antara penduduk yang sangat miskin, yang ngerasa kalo
masyarakat nggak bakalan nolongin mereka kecuali ngebikin mereka jadi
lebih menderita. Kaum Rasta memandang diri mereka sebagai penggenap
suatu visi tentang gimana orang Afrika harus hidup. Mereka ngerebut
kembali apa yang mereka anggap sebagai kebudayaan yang telah dicuri dari
mereka ketika dibawa di kapal-kapal budak ke Jamaika, tempat lahirnya
gerakan ini.
Doktrin Rastafari beda banget sama norma-norma
pikiran dunia barat modern. Hal ini disengaja sama kaum Rasta sendiri.
Beda sama kebanyakan kelompok keagamaan modern dan Kristen yang
cenderung nekankin konformitas dengan "kekuasaan yang ada", Rastafari
sebaliknya nekanin kesetiaan sama konsep mereka tentang "Sion" dan
penolakan masyarakat modern ("Babel"). "Babel" dalam hal ini dianggap
ngeberontak terhadap "Penguasa Dunia Sejati" (YAH) sejak zaman Nimrod.
"Cara
hidup ini" tidak sekadar dikasih makna intelektual, atau "keyakinan"
seperti yang biasa diistilahkan. Ini adalah masalah mengetahui atau
menemukan identitas sejati diri sendiri. Ngikutin dan nyembah YAH
Rastafari berarti nemuin, nyebarin dan "nempuh" jalan di mana orang
telah dilahirin dengan sebenarnya.
Agama ini sulit dikategorikan,
karena Rastafari bukan suatu organisasi yang tersentralisasi.
Masing-masing Rastafari mencari kebenaran untuk dirinya sendiri,
sehingga akibatnya terdapat berbagai keyakinan yang masuk ke bawah
payung besar bernama Rastafari.
Yang perlu ditekanin disini
adalah rastafari merupakan suatu ajaran hidup bukan suatu agama. PBB uga
udah ngakuin keberadaan ajaran ini. Ajaran ini sebenarnya mengajarin
seseorang untuk hidup bersih, tidak meminum alkohol dan nggak ngerokok.
Tapi kebanyakan orang salah kaprah sama Reggae. Banyak yang nganggap
kalo reggae selalu identik sama rasta yang juga diartiin banyak orang
dengan ngisap ganja dan bergaya hidup semaunya, tanpa tujuan. Reggae
adalah sebuah genre musik yang dipelopori oleh Bob Marley. Dan tentunya
disini, seorang pecinta reggae tidak selalu berpenampilan kayak Bob
Marley ato menganut rasta. Sebaliknya, belum tentu penganut rasta
menyukai reggae. Hal inilah yang harus dipahami oleh semua kalangan agar
“melek” terhadap musik berirama santai ini.
“Terus sekarang
masalahnya, mengapa saya memakai embel-embel rastafara? Embel-embel ini
tentunya bukan berarti saya juga penganut rastafarian. Saya sebenarnya
terinspirasi dari musisi reggae tanah air.” Tutur Yanuar Catur
Rastafara. Bang Tony Q Rastafara yang juga mencantumkan rastafara pada
nama belakangnya. “Rastafara yang saya ambil disini adalah filosofinya,
yaitu rasa senang dan cinta terhadap perdamaian. Cinta kepada alam,
cinta pada anak kecil, cinta wanita, dan segala sesuatu yang
beratasnamakan cinta. Saya juga bukan pengisap ganja ataupun berambut
gimbal, tetapi saya sangat cinta akan irama lantunan musik reggae
beserta lirik-liriknya. Seorang pengagum reggae belum tentu dreadlock
rasta atau identik dengan rambut gimbal dan ganja, jadi salah bila orang
yang beranggapan sebaliknya. Saya suka dan cinta kepada musik reggae
karena musik ini selalu membawa hati saya kedalam goa perdamaian.
Mungkin, jika semua orang menyukai musik reggae, tentunya tak akan ada
perang yang tak kunjung henti.” One love, one heart.. Woyyyooooo Man..
Alright.
Afrosentrisme Rasta dan Merah Kuning Ijo
Secara
sosial, Rastafari adalah suatu tanggapan terhadap penyangkalan rasialis
terhadap orang-orang kulit hitam sebagaimana yang dialami di Jamaika,
pada tahun 1930-an orang-orang kulit hitam berada di tingkat tatanan
sosial paling bawah, sementara orang-orang kulit putih dan agama mereka
(umumnya Kristen) berada di paling atas. Anjuran Marcus Garvey agar
orang-orang kulit hitam bangga akan diri mereka dan warnisan mereka
mengilhami kaum Rasta buat meluk apa aja yang bersifat Afrika. Mereka
ngajarin kalo mereka dicuci otak saat berada dalam tawanan buat nyangkal
segala sesuatu yang berkaitan sama kulit hitam dan Afrika. Mereka
ngebalik citra rasialis mereka dan nganggap primitif dan langsung dari
hutan dan malah merangkulnya -- meskipun itu berlawanan -- dan
menjadikan konsep-konsep ini sebagai bagian dari budaya Afrika yang
mereka anggap telah dicuri dari mereka ketika mereka dibawa dari Afrika
di kapal-kapal budak. Dekat dengan alam dan dengan savana Afrika serta
singa-singanya, di dalam roh, kalo bukan secara badani, adalah gagasan
sentral mereka tentang budaya Afrika.
Identifikasi Afrosentris
penting lainnya adalah warna merah, emas, dan hijau, dari warna bendera
Ethiopia. Warna-warna ini adalah lambang gerakan Rastafari, dan
kesetiaan kaum Rasa terhadap Haile Selassie, Ethiopia, dan Afrika dan
bukan kepada negara modern manapun di mana mereka kebetulan tinggal.
Warna-warna ini seringkali terlihat dalam pakaian dan hiasan-hiasan
lainnya. Merah melambangkan darah para martir, hijau melambangkan
tetumbuhan Afrika, sementara emas melambangkan kekayaan dan kemakmuran
yang ditawarkan Afrika. (Sebaliknya, sejumlah pakar Ethiopia menyatakan
bahwa warna-warna ini berasal dari pepatah lama yang bilang sabuk sabuk
Perawan Maria adalah pelangi, dan warna merah, emas, dan hijau
melambangkan semuanya ini.)
Banyak dari pemeluk Rastafari
berusaha mempelajari bahasa Amharik, yang mereka anggap sebagai bahasa
aslinya, karena inilah bahasa yang dipergunakan Haile Selassie I, dan
untuk mengidentifikasikan diri mereka sebagai orang Ethiopia—meskipun
pada praktiknya kebanyakan pemeluk Rasta tetap berbahasa Inggris atau
bahasa kelahiran mereka. Ada pula lagu-lagu reggae yang ditulis dalam
bahasa Amharik.
Kenapa Reggae dan Rasta Diidentikkan Sama Daun Ganja?
Nah, sekarang kita udah nyampe pada inti tulisan ini.
Mengenai
hal ini, banyak fersi yang ngejelasin kenapa reggae dan rasta
diindentikkan sama daun ganja. Ada yang bilang ini merupakan bentuk
identifikasi afrosentris dengan ajarannya: menyatu dengan alam, termasuk
juga dengan ganja. Tapi pendapat ini kayaknya kurang pas deh, soalnya
bertentangan banget sama ideologi rasta. Trus, gimana dong...??? Sabar
dong, sisti...!!!
Rastafari nganjurin pengikutnya buat ngejauhin
materialisme dan hidup alami. Mereka juga di larang memotong bagian
tubuhnya (maka dari itu rambut mereka di biarkan menggimbal), dan
memakan daging. Asap mariyuana juga di anjurkan di pakai buat meditasi
para rastafari. Inget...!!! Ganja hanya dipake buat ritual keagamaan
saja, bukan buat seneng-senengan doang.
Lah, trus, kenapa reggae dan rasta identik sama ganja?
Kayak
yang udah kita bahas di depan. Om Bob adalah legenda reggae. Dia juga
seorang rastafarian. Sedangkan menurut sebagian pendapat, dalam ajaran
rastafari marijuana dipake sebagai mediasi dalam meditasi.
Dan
Reggae nggak selalu identik sama ganja. Anggapan itu sebenernya karena
memandang para musisi Reggae yang selalu menggunakan gambar daun ganja
sebagai Cover di Album mereka. Apalagi salah seorang musisi Reggae Peter
Tosh tiap kali manggung selalu menghisap daun ganja dan dia pernah
bikin lagu tentang pelegalan ganja yang berjudul Legalize It, yang
mengakibatkan dia ditangkap polisi Jamaika. Tuh, di Jamaika aja (tempat
lahirnya musik reggae dan gerakan rastafari) dilarang.
Definisi reggae
01.43 |
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar